Postingan

Dongeng Ramuan Cinta 2

Pangeran Frosty segera menyiapkan pasukan. Ratu dan dayang dayang diungsikan ke ruang bawah tanah, sementara Raja ikut memimpin peperangan. Saat Pangeran Mochao hendak menyusul, ia melihat putri Suiker tergeletak di lantai. Ia segera menghampiri putri dan menyadari bahwa putri telah diserang racun dari ramuan cinta, yang masih tersisa sepertiga nya di dekatnya, “Penguasa Langit dan Bumi, aku mencintai wanita ini dengan segenap hatiku. Aku mohon, jadikanlah aku penyelamat baginya, dengan segenap jiwa dan ragaku.” Ucapnya sebelum meminumkan ramua cinta itu kepada putri Suiker. Seketika, ramuan cinta itu kembali seperti semula, dan berhasil menyelamatkan putri Suiker, “Syukurlah engkau selamat, duhai pujaanku.” Kata sang pangeran, sang putri tersenyum lembut, “Kamu tidak membutuhkan zat asing apapun untuk membuatku mencintaimu. Sudah disaksikan oleh waktu akan keluhuranmu. Jadilah engkau pendampingku.” Kata sang putri. Sang pangeran tersenyum, ia bahagia karena penantian dan ke...

Dongeng Ramuan Cinta part 1

Dahulu kala, di sebuah kerajaan yang jauh, hiduplah sepasang raja dan ratu. Mereka penguasa yang sangat mencintai rakyatnya, begitupun sebaliknya. Raja dan ratu tersebut tengah berbahagia, karena mereka dikaruniai sepasang anak kembar. Seluruh kerajaan pun bergembira atas kelahiran mereka. Diadakanlah pesta rakyat selama sehari semalam untuk merayakannya. Sepasang putra dan putri mahkota itu diberi nama Pangeran Frosty dan Putri Suiker. Tahun demi tahun berlalu, Pangeran Frosty dan Putri Suiker pun tumbuh dewasa. Kedua nya tumbuh menjadi putra dan putri raja yang disanjung dan dihormati rakyatnya. Pangeran Frosty adalah sosok pendiam yang tidak banyak bicara. Hobi nya membaca dan bermain musik di perpustakaan. Kecerdasan dan karisma nya membuat seluruh gadis di kerajaan itu tergila-gila padanya. Sementara putri Suiker adalah putri baik hati yang gemar menolong. Ia memiliki suara merdu dan paras rupawan. Tak sedikit ksatria yang berlutut memuja kecantikannya. Hingga pada suatu ...

Sepasang Sayap Hitam

Larut malam dimakan senyap Penduduk kota tengah terlelap Hanya ombak pecah merayap Ke barisan karang yang gelap         Hidup segan mati tak mau         Gerangan rindu pun tak tahu         Mengejek rembulan yang frustrasi         Dengan engkau yang tersenyum sendiri Jeda malam bagai tercekik Tak satupun mahluk berbisik Ketika sunyi malam dipetik Serunai angin bagai kecapi antik           Ku ulurkan tangaku padanya           Jemari beku tak berhawa           Rengkuhan kekar tanpa cela           Bersimpuh pada matanya Sepasang sayap megah terkembang Hitam....legam....tak berbayang Menjejaki langit tak ingin pulang Dunia... ini aku datang.../// -P26-

Pelajar Akhir Zaman

Mengaku mengusung semangat reformasi Pembaruan negeri dengan bakti Berjuang atas globalisasi dan era baru Menuju generasi baru Tapi tidaklah semudah itu terlihat.. Semakin gencar tipu muslihat Tak jemu meremuk dan melumat Hedonisme kian menjilat jilat Kunci palsu bertebaran Menghasilkan beban dan keterpurukan Akan kemana larinya penbangunan Ditangan para pelajar akhir zaman? Hei kawan! Kita generasi akhir zaman Tanpa kecerahan dibalik permusuhan Permusuhan dengan kegelapab Yang tampak bagai pertolongan Kitalah generasi akhir zaman Yang mempertaruhkan masa depan Tak ada lagi keajaiban! Jika bukan karena gerak kaki dan tangan

Tombak Berlian part 3

    Setelah mereka berlari jauh, mereka sampai ke depan mulut tambang. Saat hendak masuk, mereka dicegat oleh monser tambang yang besar dan menakutkan, "Selamat datang di tambang runtuh. Seorang pemuda baru saja masuk, karena berhasil. Kalau kalian juga berhasil, kalian boleh masuk." kata monster itu dengan suara berat, "Baiklah. Apa ujianmu?" tanya si Sulung, "Aku ada di ekor Kijang, di bawah Jurang dan di ujung Lorong. Tapi aku bisa berpindah ke kepala Gajah dan menghilang ketika ada kabut. Siapakah aku?" tanya monster itu, si Sulung terperanjat, 'Soal macam apa itu?' pekiknya, "Huruf G?" tanya si Bungsu, monster itu tersenyum puas, "Jawaban bagus, anak muda. Benar sekali." katanya, "Satu lagi. Bergelar panas ketika aku menempati empat ruang, bergelar dingin saat aku menempati ruangan yang tidak sempurna, semua mahluk hidup memiliki aku, kecuali tumbuhan. Jika kaya, aku akan terang, jika miskin aku akan gelap, siap...

Tombak Berlian part 2

    Mereka berjalan menuju sudut kota. Tak sengaja, mereka bertemu dengan si Sulung yang tengah mengamuk, "Astaga..! Setan pasar itu bikin ulah lagi!" seru si Tengah dramatis, "Iya, setan pasar itu juga kakakmu, kak! Ayo larii...!" si Bungsu menarik tangan si Tengah dan berlari menjauh dari si Sulung. Si Sulung melihatnya dan mengejar mereka, "Kembali kesini, anak kurangajar!" serunya berang, "Kamu punya rencana apa, bocah?" tanya si Tengah, "Sudah, jangan bawel! Lihat nanti saja." jawab si Bungsu, sampai di sumur, ia melihat seseorang sedang menimba air. Ia merebut ember yang sudah penuh dan melempar airnya kepada si Sulung. Begitu kuatnya ia melempar air sampai si Sulung pingsan. Ia pun panik dan terus berlari dari kota menuju hutan.    Sesampainya di hutan, ia berhenti berlari, dan melepaskan tangan kakaknya, "Apakah si Sulung mati? Ini semua gara-gara ulahmu, anak bodoh!" caci si Tengah, "Kalau tidak begitu, k...

Tombak Berlian part 1

      Pada zaman dahulu, di sebuah kota kecil, hiduplah tiga bersaudara sebatang kara. Mereka yatim piatu, dan tinggal di rumah warisan keluarga yang kecil dan sempit. Mereka bekerja pada tukang roti untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, namun, sayang, tak pernah cukup. Si Sulung, adalah seorang penjudi dan pemabuk. Uangnya ia habiskan untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Sementara si tengah adalah seorang pujangga yang berambisi menikahi putri raja. Ia menggunakan sebagian besar uangnya untuk membeli pakaian bagus yang mahal untuk terlihat kaya, dan merayu gadis-gadis kota. Sementara si bungsu, adalah anak yang paling bekerja keras. Ia bekerja seharian dan menabung sebagian uangnya untuk kebutuhan berikutnya, sementara ia membeli makan sehari dengan uang lainnya. Selain rajin, ia juga cerdas dan jujur, karena sifatnya inilah, ia mendapat kemudahan dari warga saat tudak memiliki uang.       Suatu hari, si Bungsu kehabisan uang. Tabungannya...